Logo SantriDigital

Afdolu dzikri

Khutbah Jumat
A
Abdul Basit
30 April 2026 4 menit baca 0 views

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ...

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Hadirin yang kumuliakan, sidang Jumat yang dirahmati Allah, Mari sejenak kita renungkan, hati yang mulai mengeras, jiwa yang kian tergerus zaman. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus berputar, di antara tumpukan kesibukan yang tak berujung, adakah kita masih memiliki waktu untuk diri kita sendiri? Untuk jiwa kita yang merindu? Untuk hati kita yang mendamba? Pada detik-detik yang berharga ini, mari kita tarik napas dalam-dalam, hembuskan segala keluh kesah dunia, dan hadirkan keharibaan Sang Maha Pencipta, Allah Ta'ala. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Di dalam Al-Qur'an yang mulia, Allah berfirman, mengingatkan kita akan keagungan Dzat-Nya dan keutamaan mengingat-Nya: "الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ" *(Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.)* (QS. Ar-Ra'd: 28). Betapa indah janji ini. Betapa merdu panggilan ini. Di saat hati kita gundah gulana, di saat jiwa kita dilanda resah, satu-satunya penawar adalah zikir. Zikir kepada Allah. Bukan sekadar ucapan lisan, bukan pula gerakan tanpa makna. Zikir adalah denyut nadi keimanan, aliran darah kehidupan hati yang shaleh. Tanpanya, hati akan mati, jiwa akan kering kerontang, bagai padang pasir tandus di bawah terik matahari. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Pernahkah kita merasakan kesedihan yang mendalam? Rasa kehilangan yang menghujam kalbu? Beban hidup yang terasa begitu berat, seolah tak sanggup lagi untuk dipikul? Di saat itulah, kita diuji. Diuji sejauh mana kekuatan iman kita, sejauh mana kedalaman zikir kita. Pernahkah kita mencoba untuk bangkit, merebahkan diri di hadapan-Nya, dan merintih, "Ya Allah," sembari linangan air mata membasahi pipi? Sungguh, di dalam isak tangis penyesalan itulah, tersembunyi kelegaan yang tak terkira. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui, bahkan tangisan hati yang tak bersuara. Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Allah Ta'ala berfirman: "أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ." *(Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam Dzat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari itu.)* Sungguh, sebuah kehormatan yang luar biasa! Ketika kita mengingat Allah, maka Allah pun mengingat kita. Di saat kita sendiri, merenungi kebesaran-Nya, Allah menyertai kita. Di saat kita menyebut nama-Nya di tengah banyak orang, Allah membanggakan kita di hadapan malaikat-malaikat-Nya yang mulia. Betapa besar kerugian kita jika lisan ini kering dari zikir, hati ini beku dari mengingat-Nya, dan akal ini terhijab oleh urusan duniawi semata. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Ingatlah, hidup ini singkat, bukan? Seperti embun di pagi hari, akan segera menguap tanpa bekas. Usia kita terus berkurang, setiap detik yang berlalu takkan pernah kembali. Dosa-dosa kita menumpuk, bagai timbunan sampah yang semakin tinggi, mengancam untuk menenggelamkan kita dalam jurang kenistaan. Di hadapan akhirat yang begitu luas dan kekal, apa bekal yang telah kita siapkan? Apakah hanya harapan kosong agar Allah mengampuni tanpa usaha? Apakah hanya keinginan saja tanpa disertai penyesalan yang tulus? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "أَلا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِعْطَاءِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟" قَالُوا: بَلَى. قَالَ: "ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى." *(Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sebaik-baik amalan kalian, yang paling mengangkat derajat kalian, paling suci di sisi Tuhan kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian? Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Zikrullah (mengingat Allah Ta'ala).")* (HR. Tirmidzi). Zikir adalah amalan terbaik. Ia adalah penyejuk hati, pembersih jiwa, penolong di kala sulit, dan kunci kebahagiaan sejati. Zikir adalah jalan untuk berbisik dengan Sang Pencipta, melantunkan rindu kepada-Nya, dan memohon ampunan atas segala khilaf. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Lihatlah mata kita. Berapa banyak ia telah berbuat dosa? Berapa banyak ia telah melihat sesuatu yang tidak diridhai-Nya? Dengarkan telinga ini. Berapa banyak ia telah mendengar perkataan yang sia-sia, yang jauh dari kebaikan? Tangan ini, kaki ini, seluruh anggota badan ini, kelak akan menjadi saksi di hadapan Allah. Jika kita tak pernah menggunakannya untuk berzikir, untuk mengingat-Nya, untuk bersujud kepada-Nya, lalu apa yang akan kita katakan saat pertanggungjawaban tiba? Apakah kita memiliki harapan untuk bertemu dengan wajah-Nya dengan senyum yang penuh ridha? Wahai diri, wahai jiwa, janganlah terbuai oleh fatamorgana dunia. Janganlah biarkan hati mengeras bagai batu. Kembalilah kepada Allah. Mulailah zikir dari sekarang. Ucapkan "Subhanallah," rasakan keagungan Sang Pencipta. Ucapkan "Alhamdulillah," syukuri segala nikmat yang tak terhingga. Ucapkan "La ilaha illallah," teguhkan keesaan-Nya di dalam hati. Ucapkan "Allahu Akbar," sadari betapa kecil diri kita di hadapan kebesaran-Nya. Biarkan kata-kata tersebut menggema di relung hati, mengusir kelalaian, melarutkan kesombongan. Ya Allah, sungguh hati ini lemah, jiwa ini rapuh, iman ini seringkali goyah. Ampuni kami, Ya Rabb. Lindungi kami dari kelalaian, jauhkan kami dari kesesatan. Jadikan lisan kami senantiasa basah dengan zikir, jadikan hati kami senantiasa terpaut pada-Mu. Tumbuhkan dalam diri kami rasa takut yang membuat kami menjauhi maksiat, dan tumbuhkan rasa harap yang membuat kami tak pernah putus asa dari rahmat-Mu. Ya Allah, dengan kerendahan hati, kami memohon, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang senantiasa mengingat-Mu dalam setiap keadaan, baik dalam kesenangan maupun kesulitan, dalam suka maupun duka. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →